Senin, 15 November 2010

SURVEY UKM KERUPUK

BAB I
PENDAHULUAN

Dari pengamatan yang kami lakukan , sebelum mengetahui lebih lanjut tentang hasilnya , terlebih dahulu kita mengetahui gambaran-gambaran tentang bagian pendahuluannya.
1.1. Latar Belakang Masalah

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang melatarbelakangi usaha kerupuk bawang ” Sari Agung ” ini ?
2. Bagaimana proses pembuatan kerupuk bawang ini ?
3. Bagaimana proses pemasaran kerupuk ini ?
1.3. Tujuan Pengamatan
Sesuai rumusan masalah di atas maka maka tujua penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui latarbelakang berdirinya usaha kerupuk bawang ” Sari Agung”
2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan kerupuk
3. Agar mengetahui proses pemasaran dari kerupuk ini.
1.4. Manfaat Pengamatan
Karya ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi :

1.4.1. Bagi Penulis
1. Kita bisa mengetahui latar belakang berdirinya usaha kerupu bawang.
2. Kita bisa mengetahui proses pembuatan kerupuk bawang.
3. Kita bisa mengetahui proses pemasaran kerupuk bawang ini.

1.4.2. Bagi Pembaca
1. Untuk menambah pengetahuan yang baru bagi para pembaca.
2. Agar mengetahui bagaimana proses yang berketerkaitan dalam pembuatan kerupuk bawang.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2. Pengertian Kerupuk
Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak.



Gambar 1. Kerupuk yang sudah di goreng.

Kerupuk bertekstur garing dan sering dijadikan pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi goreng dan gado-gado.
Kerupuk udang dan kerupuk ikan adalah jenis kerupuk yang paling umum dijumpai di Indonesia. Kerupuk berharga murah seperti kerupuk aci atau kerupuk mlarat hanya dibuat dari adonan sagu dicampur garam, bahan pewarna makanan, dan vetsin.
Kerupuk biasanya dijual di dalam kemasan yang belum digoreng. Kerupuk ikan dari jenis yang sulit mengembang ketika digoreng biasanya dijual dalam bentuk sudah digoreng.
Kerupuk kulit atau kerupuk ikan yang sulit mengembang perlu digoreng sebanyak dua kali. Kerupuk perlu digoreng lebih dulu dengan minyak goreng bersuhu rendah sebelum dipindahkan ke dalam wajan berisi minyak goreng panas.
Kerupuk kulit (kerupuk jangek) adalah kerupuk yang tidak dibuat adonan tepung tapioka, melainkan dari kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan.
Membuat Kerupuk Udang Enak dan Sehat
Kerupuk memang bagian yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi masyarakat Indonesia. Dan hampir setiap orang menyukai kerupuk, selain rasanya yang enak harganya juga relatif terjangkau. Secara umum kerupuk adalah bahan kering yang berupa lempengan tipis yang terbuat dari bahan baku seperti ikan, kulit dan dapat juga berasal dari udang.
Akan tetapi saat ini begitu banyak kerupuk yang menggunakan bahan-bahan pangawet yang tidak diizinkan atau membahayakan konsumen, seperti penggunaan boraks. Padahal untuk pembuatan semua jenis kerupuk sama sekali tidak memerlukan bahan pengawet dalam pembuatannya.

2.1. Bahan – Bahan dalam Pembuatan Kerupuk
















BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

3. Interview atau wawancara

Yaitu sebuah dialog yang di lakukan oleh pewawancara untuk memperoleh
Informasi dari terwawancara. Disini interview yang digunaan adalah interview bebas yaitu tanpa membawa sederetan pertanyaan tetapi sesuai dengan situasi dan kondisi.
Narasumber : Bp.Saimin / Soden, lahir di Wonogiri, 5 Juni 1955 selaku pemilik usaha



Gambar 2. Bp. Saimin (memakai topi hitam ) sedang memindahkan kerupuk

3.1 Observasi
Yaitu pemusatan perhatian pada sutu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Disini observasi yang digunakan adalah observasi sistematis yaitu menggunakan instrumen pengamatan.
Tempat : Usaha Produksi Kerupuk Bawang ” Sari Agung ” terletak di Dusun Keling RT :16 RW:05 Desa Jumputrejo Kecamatan Sukodono Kab. Sidoarjo Jawa Timur 61258

3.2 Dokumentasi
Mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan,transkip,buku,surat kabar,majalah,prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Disini variabel yang digunakan adalah catatan, buku, foto dan internet.




























BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISA DATA

4. PENYAJIAN DATA

Masyarakat Indonesia telah lama mengenal kerupuk sebagai makanan kecil. Jenis makanan ini biasanya di konsumsi sebagai makanan yang mampu membangkitkan selera makan atau hanya sekedar di konsumsi sebagai makanan kecil.
Kerupuk dikenal baik di segala usia maupun tingkat sosial masyarakat.kerupuk mudah diperoleh disegala macam tempat,baik di kedai di pinggir jalan hingga di restoran hotel berbintang maupun di supermarket ternama.
Jenis kerupuk di buat oleh orang-orang sangat banyak mulai dari yang berbahan dasar tepung tapioka dan tepung terigu , bahan tersebut dapat dicampur dengan bahan tambahan yang lainsehingga menjadi kerupuk bawang dengan aroma rasa bawang. Dalam proses kerupuk ini tidak perlu memiliki suatu keterampilan khusussebagai dapat dilakukan dalam skala industri rumah tangga.
Usaha di bidang ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat mengingat kerupuk berharga murah ( berkisar antara Rp.100-Rp.200 / lebih bila di konsumsi dalam keadaan matang ). Dan yang menjadi keunggulan yang lain yaitu kerupuk sudah akrab di lidah rakyat indonesia , tidak mengherankan bahwausaha di bidang ini memiliki prospek yang cerah.

4.1. ANALISA DATA

4.1.1. LATAR BELAKANG USAHA

Perusahaan industri makanan ringan ( kerupuk ) yang berbahan dasar bawang putih ini berdiri pada tahun 1999 oleh Bp.Saimin. Modal kerja yang ditanamkan untuk merintis usaha ini pada waktu itu sebesar Rp. 5.000.000.
Dengan hanya menggunakan peralatan yang sederhana dan masih manual, maka dimulailah pembuatan kerupuk bawang ini. Tenaga kerja yang ada pada waktu itu hanya direkrut dari lingkungan keluarga.
Namun, dari waktu ke waktu usaha pembuatan makanan ringan ini menunjukkan perkembangan dengan semakin banyaknya peminat terhadap makanan olahan hasil produksi perusahaan Bawang Putih ini.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk selalu menciptakan resep baru dan memperbanyak jenis makanan ringan yang diproduksinya.Hingga saat ini perusahaan ini telah mempekerjakan 19 orang karyawan, yang direkrut dari daerah tempat tinggal Bp.Saimin yakni Wonogiri. Untuk mengembangkan usahanya pemilik perusahaan telah berusaha untuk mendapatkan bantuan baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Meskipun tidak 100 % tapi Bp.Saimin tetap bersyukur karena usahanya telah berkembang , bertambahnya jumlah karyawan dan beberapa fasilitas untuk karyawan.
Usaha ini diberi nama ”Sari Agung ” karena pemilik usaha ingin memperoleh keuntungan yang besar.”Sari Agung” berasal dari dua kata yaitu sari yang berarti ekstrak atau berat bersih atau dalam dunia industri dinamakan keuntungan sedangkan agung yaitu besar. Jadi ”Sari Agung” adalah keuntungan yang besar. Alhasil , berkat kegigihan bapak dua orang anak ini telah memperoleh keuntungan yang besar meskipun tidak mesti tapi beliau memperoleh keuntungan sekitar Rp.500.000,00 / bulan.
Bapak Saimin memilih usaha ini di banding dengan usaha lain karena beliau hanya memiliki keterampilan dan pengalaman di bidang ini serta masih banyaknya orang-orang yang masih menggemari kerupuk.menurut mereka , tak lengkap rasanya jika makan tanpa kerupuk. Kebiasaan inilah yang membuat usaha pembuatan kerupuk tetap berjalan meski dalam situasi krisis dan persaingan industri besar. Meski dengan kemampuan sumber daya yang minim, usaha kecil ini nyatanya tetap berkibar. Satu hal yang pasti, prospek bisnis ini diyakini masih bagus. Buktinya, seorang produsen mampu meraup keuntungan Rp 500.000,00 / bulan.
Mungkin, tak seorangpun akan menduga bahwa usaha kecil ini masih bisa bertahan. Betapa tidak, di era serba modern ini, mereka masih menggunakan peralatan yang relatif sederhana. Mereka tetap berproduksi sepanjang hari. Mungkin, itu karena bahan baku kerupuk relatif mudah diperoleh. Tepung tapioka atau ketela pohon, misalnya. Begitu pula dengan bahan baku lain seperti bawang putih, garam, dan ikan mudah diperoleh di sekitar Sidoarjo. Meski dengan harga yang fluktuatif, mereka tak sulit mendapatkan. "Saat ini harga ketela pohon Rp 120 ribu per 50 kilogram," kata Bp.Saimin,produsen kerupuk.
Bp.Saimin juga mengaku tak kesulitan soal pemasaran meski harus bersaing dengan sejumlah pengusaha lainnya. Sebab, pangsa pasar kerupuk masih cukup luas. Kalaupun ada hambatan, menurut Bp.Saimin , tak lain karena keterbatasan dana untuk pengembangan usaha. Mereka kesulitan untuk memperoleh pinjaman dari bank lantaran keharusan menyertakan jaminan.
Proses pembuatan kerupuk tergolong sederhana dan mudah. Pertama, tepung tapioka dicampur adonan dan bumbu untuk memperoleh bahan baku yang siap diproses. Bp.Saimin bersama 19 karyawan yang ada, berbagi tugas untuk melanjutkan proses berikutnya. Sebagian ada yang mengerjakan pembentukan bahan baku dengan cetakan. "Ini perlukan kesabaran dan ketekunan,"jelas Bp.Saimin.

4.1.2. PROSES PEMBUATAN

Kerupuk bawang merupakan salah satu jenis kerupuk yang sering kita temui di warung maupun rumah makan. Bentuk kerupuk ini cukup unik dan memiliki ciri khas tersendiri bentuknya seperti jalinan tali yang menggelinting dan berasa bawang. Usaha pembuatan kerupuk bawang hanya melakukan pengolahan dari bahan mentah sampai pada proses kerupuk siap goreng. Adapun proses pembuatan kerupuk ikan adalah sebagai berikut :

1. Proses penyiapan bahan baku
Proses penyiapan bahan baku adalah persiapan bawang putih yang akan digunakan, tepung serta bumbu-bumbu yang digunakan beserta perhitungan komposisi masing-masing bahan untuk setiap adonan. Dalam mempersiapkan bahan baku pembuatan kerupuk bawang yang perlu mendapat perhatian utama adalah penyiapan bawang putih yang akan dijadikan bahan utama. Mutu bawang putih yang digunakan akan mempengaruhi mutu produksi kerupuk bawang,oleh karena itu perlu dipilih bawang putih yang berkualitas. Selanjutnya bawang tersebut digiling sampai halus. Di samping itu bahan baku berupa tepung dan telur serta bumbu disiapkan untuk proses adonan.



Gambar 3. Bahan –bahan pembuatan kerupuk

2. Proses pembentukan adonan

Adonan dibuat dari tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu-bumbu yang digunakan. Tepung diberi air dingin hingga menjadi adonan yang kental. Bumbu dan bawang yang telah digiling halus dimasukkan ke dalam adonan dan diaduk/diremas hingga lumat dan rata. Adonan ini kemudian dimasukkan ke dalam mulen untuk pelembutan, dan akan diperoleh adonan yang kenyal dengan campuran bahan merata.
Untuk membuat adonan kerupuk udang tidaklah terlalu sulit dan alat-alat yang dibutuhkan juga tidak terlalu rumit. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah tepung sebagai bahan utama seperti tepung tapioka, tepung terigu, bawang putih garam dan ikan sarden.
Alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan dalam jumlah kecil tidak terlalu banyak dan dapat menggunakan alat dapur sederhana seperti baskom, tampah, cobek dan juga loyang. Semua alat tersebut dapat kita beli di pasar atau toko terdekat. Sedangkan untuk produksi dalam skala besar, diperlukan alat pencetak, alat pengukus ukuran besar, dan juga oven.

2.1. CARA PEMBUATAN ADONAN

2.1.1 BAHAN BAKU
1) Tepung Tapioka 7 kg.
2) Tepung terigu 5 kg.
3) Bawang putih 3 kg.
4) Garam dapur 0.5 kg
5) Ikan Sarden 7 kaleng.
6) Bumbu masak secuupnya
7) Udang secukupnya
8) Gula Pasir 0.75 kg.

2.1.2 ALAT YANG DIGUNAKAN
1) Alat oven
2) Tampah
3) Alat cetak
4) Alat penggorengan
5) Kotak besar
6) Tempat adonan yang sudah jadi

Cara Membuat Kerupuk Bawang :
1) Kupas bawang putih.Selanjutnya cuci bersih dengan air dan tumbuk hingga halus.
2) Haluskan bawang putih dan garam kemudian campurkan ikan sarden, kemudian aduk dan remas hingga adonan bercampur.
3) Setelah tercampur rata, tambahkan tepung terigu, tepung tapioka dan air kemudian aduk adonan hingga mengental.
4) Cetak adonan kedalam loyang sesuai dengan mesin pencetak, kemudian masak sampai matang..




Gambar 4. Proses pencampuran Adonan

3. Pencetakan

Pencetakan adonan dapat dilakukan dengan tangan ataupun dengan mesin. Dengan menggunakan tangan adonan dibentuk silinder dengan diameter 5 cm. Dengan bantuan alat cetak adonan ini dapat dibuat dalam bentuk serupa. Kemudian adonan berbentuk silinder ini di "press" untuk mendapatkan adonan yang lebih padat. Selanjutnya adonan ini dimasukkan ke dalam cetakan yang berbentuk silinder yang terbuat dari aluminium.



Gambar 5. Alat pembuatan kerupuk


Gambar 6. Penuangan adonan di mesin pencetak


Gambar 7.pencetakan kerupuk bawang




Gambar 8. kerupuk yang sudah di cetak
5. Pengukusan
Adonan berbentuk lonjong kemudian dikukus dalam dandang selama kurang lebih 2 jam sampai masak. Untuk mengetahui apakah adonan kerupuk telah masak atau belum adalah dengan cara menusukkan lidi ke dalamnya. Bila adonan tidak melekat pada lidi berarti adonan telah masak. Cara lain untuk menentukan masak atau tidaknya adonan kerupuk dapat dilakukan dengan menekan adonan tersebut. Bila permukaan silinder kembali seperti semula, artinya adonan telah masak.



Gambar 9.Pengukusan kerupuk yang sudah di cetak



Gambar 10. Alat kukus kerupuk
6. Pendinginan
Adonan kerupuk yang telah masak segera diangkat dan didinginkan. Untuk melepaskan dari cetakan, biasanya adonan tersebut diguyur dengan air. Adonan tersebut kemudian didinginkan di udara terbuka kurang lebih 1 (satu) hari atau kurang lebih 24 jam hingga kering.



Gambar 11.Bapak Saimin dengan karyawannya sedang memidahkan kerupuk

7. Penjemuran/pengovenan
Adonan yang telah di dinginkan kemudian dijemur sampai kering. Penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari kurang lebih 4 jam. Pada saat musim hujan untuk pengeringan kerupuk yang masih basah ini dapat dilakukan dengan oven (dryer) selama kurang lebih 2 jam. Tetapi kerupuk yang dikeringkan dengan sinar matahari hasilnya akan lebih bagus dibandingkan jika menggunakan oven. Kerupuk yang dikeringkan dengan sinar matahari jika digoreng akan lebih mengembang. Hal ini akan lebih menguntungkan para pengusaha penggorengan kerupuk dan akan mempengaruhi harga kerupuk. Karena itulah pengeringan menggunakan sinar matahari lebih disukai dibandingkan dengan menggunakan oven.


Gambar 12. Penggovenan kerupuk yang belum kering



Gambar 13. Kerupuk yang akan di oven



Gambar 14. Penggeringan kerupuk oleh cahaya matahari



8. Penggorengan
Setelah kerupuk benar-benar kering , langkah selanjutnya adalah menggoreng kerupuk.menggoreng kerpuk ini memerluan dua penggorengan besar. Penggorengan yang pertama untuk memanaskan kerupu dan yang kedua adalah untuk menggembangkan kerupuk. Setelah di goreng kerupuk siap untuk di konsumsi dan di pasarkan.




Gambar 15. Penggorengan yang pertama



Gambar 16. Penggorengan yang kedua



Gambar 17. Kerupuk yang sudah di goreng

8.1.1. TATA NIAGA

Pemasaran kerupuk ” Sari Agung ” sudah meluas di wilayah Sukodono dan sekitarnya mulai dari pemasok kedai sampai masyarakat kecil. Harga kerupuk inipun relatif dapat di jangkau oleh bagi semua lapisan masyarakat. Harganya relatif murah dengan rasa yang bisa di andalkan . Hal ini memungkinkan semua lapisan masyarakat dapat membeli seusai kemampuannya. Kerupuk bawang tersedia di pasaran dalam bentuk siap di konsumsi seperti pada usaha ini maupun dalam bentuk mentah.
Dengan demikian kerupuk dapat mendorong tumbuhnya industri kerupuk atau bidang usaha lain seperti usaha pembuatan kerupuk mentah mauun yang sudah matang. Industri pembuatan kerupuk umumnya hanya menjual kerupuk mentah saja, sedangkan hasil kerupuknya di jual kepada industri penggorengan kerupuk. Nantinya industri penggorenggan kerupuk ini yang akan menyalurkan ke agen (toko / warung )
Untuk memperpendek pendistribusian kerupuk, Bapak Saimin menerapkan sistem 2 in 1 yaitu usaha pembuatan kerupuk sekaligus penggorenggan kerupuk. Jadi akan memperoleh keuntungan yang besar.







Gambar 18. Kerupuk yang siap di pasarkan






BAB V
PENUTUP


5.1. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan analisa pengamatan tadi maka dapat di simpulkan sebagai berikut :
1) Usaha kerupuk ini di dasarkan pada keahlian dan pengalaman yang di miliki oleh Bapak Saimin serta masih banyaknya orang-orang yang masih menggemari kerupuk.Menurut mereka , tak lengkap rasanya jika makan tanpa kerupuk. Kebiasaan inilah yang membuat usaha pembuatan kerupuk tetap berjalan meski dalam situasi krisis dan persaingan industri besar. Meski dengan kemampuan sumber daya yang minim, usaha kecil ini nyatanya tetap berkibar. Satu hal yang pasti, prospek bisnis ini diyakini masih bagus. Buktinya, seorang produsen mampu meraup keuntungan Rp 500.000,00 / bulan.
2) Proses pembuatan kerupuk bawang ini di mulai dari penyiapan bahan untuk adonan, lalu membuat adonan.Setelah itu adonan di cetak dalam alat pencetak. Langkah selanjutnya adalah mengukus kerupuk yang telah di cetak setelah itu di dinginkan atau dikeringkan apabila dalam musim hujan kerupuk masih perlu di oven agar lebih renyah. Langkah yang terakhir adalah menggoreng kerupuk dan siap untuk di pasarkan.
3) Pemasaran kerupuk ini bisa dalam keadaan matang maupun dalam keadaan mentah. Untuk usaha ini, pemili usaha lebih memilih sistem 2 in 1 yaitu memproduksi erupuk yang siap di konsumsi dan yang masih mentah.

5.2. SARAN
Saran untuk meningkatkan nilai tambah kerupuk adalah :
Untuk memberi nilai tambah, kerupuk udang tidak hanya di jual dalam keadaan setengah pakai saja, tetapi juga dalam keadaan siap makan atau sudah digoreng. Karena bila di jual dalam keadaan matang dirasa bisa jauh lebih menguntungkan.Tetapi yang harus diperhatikan bila menjual kerupuk udang dalam keadaan siap makan adalah penggunaan minyak goreng yang dipakai, karena bila minyak goreng telah digunakan lebih dari tiga kali justru akan memberi kerupuk udang yang dihasilkan mudah cepat tengik. Hal ini dikarenakan minyak goreng yang dipakai sudah rusak, sehingga pengulangan penggunaan minyak goreng sebaiknya dibatasi.
Selain itu dalam hal kemasan, untuk meningkatkan nilai jual sebaiknya dibuatkan kemasan yang unik dan transparant. Pilih gambar dan warna yang pas serta design yang mampu mengundang selera konsumen untuk membelinya






















DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi.1999. Prossedur Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wahyono, Rudi dan Marzuki.2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta : Penebar Swadaya.
www.google.com
www.wikipedia.com
www.liputan6.com

TEKNOLOGI HASIL PETERNAKAN

Kriteria Kualitas Daging
Kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah dipotong. Pada waktu hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya adalah cara pemeliharaan, yang meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga dipengaruhi oleh pengeluaran darah pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong.
Kualitas daging yang baik
• Keempukan atau kelunakan
Keempukan daging ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan, susunan jaringan ikat semakin
banyak, sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika ditekan dengan jari, daging sehat akan memiliki konsistensi kenyal (padat).
• Kandungan lemak atau marbling
Marbling adalah lenak yang terdapat diantara serabut otot (intramuscular). Lemak berfungsi sebagai pembungkus otot
dan mempertahankan keutuhan daging pada waktu dipanaskan. Marbling berpengaruh terhadap citra rasa daging.
• Warna
Warna daging bervariasi, tergantung dari jenis secara genetik dan usia, misalnya daging sapi potong lebih gelap
daripada daging sapi perah, daging sapi muda lebih pucat daripada daging sapi dewasa
• Rasa dan Aroma
Cita rasa dan aroma dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging yang berkualitas baik mempunyai rasa yang relatif gurih dan
aroma yang sedap.
• Kelembaban
Secara normal daging mempunyai permukaan yang relatif kering sehingga dapat menahan pertumbuhan
mikroorganisme dari luar. Dengan demikian mempengaruhi daya simpan daging tersebut.
Kualitas daging yang tidak baik
• Bau dan rasa yang tidak normal
Bau yang tidak normal biasanya akan segera tercium sesudah hewan dipotong. Hal itu dapat disebabkan oleh adanya
kelainan antara lain :
• -Hewan sakit
Hewan yang sakit, terutama yang menderita radang bersifat akut pada organ dalam, akan menghasilkan daging yang
berbau seperti mentega tengik
• Hewan dalam pengobatan
Hewan dalam masa pengobatan terutama dengan pemberian antibiotika, akan menghasilkan daging yang berbau obat-
obatan.
• Warna daging tidak normal
Warna daging yang tidak normal tidak selalu membahayakan kesehatan konsumen, namun mengurangi selera
konsumen.
• Konsistensi daging tidak normal
Daging yang tidak sehat mempunyai kekenyalan rendah (jika ditekan dengan jari akan terasa lunak) apalagi diikuti
dengan perubahan warna yang tidak normal. Maka daging tersebut tidak layak dikonsumsi
• Daging busuk
Daging yang busuk dapat mengganggu kesehatan konsumen, karena menyebabkan gangguan saluran pencernaan.
Pembusukan dapat disebabkan karena penanganan yang kurang baik pada waktu pendinginan, sehingga aktivitas
bakteri pembusuk meningkat, atau karena dibiarkan di tempat terbuka dalam waktu relatif lama pada suhu kamar,
sehingga terjadi proses pemecahan protein oleh enzim-enzim dalam daging.

CARA MENGETAHUI KUALITAS DAGING DAN IKAN


Ciri-ciri ikan yang segar, yaitu : mata ikan jernih, kornea bening, pupil hitam dan mata cembung, insangnya berwarna merah segar dan cemerlang, lendir ikan segar bening dan cemerlang, sisiknya ikan segar melekat kuat, mengkilap, aroma ikan segar berbau segar khas ikan (tanpa bau busuk atau menyimpang), daging ikan segar biasanya kenyal, elastis dan berwarna cerah. Jika ditekan tidak menimbulkan bekas permanen.

Sedangkan, cirri-ciri ikan tidak segar, yaitu : Ciri-ciri ikan tidak segar (tidak layak dikonsumsi), antara lain : mata cekung, buram, serta mata kelabu tertutup lendir, insang keabu-abuan, berlendir dan bau, lendir menjadi kekuningan, lengket dan aroma menyengat, sisik ikan berubah menjadi mudah lepas dan warnanya memudar, aroma ikan berbau busuk dan mengapung jika diletakkan di dalam air, ikan busuk berwarna pucat, lunak dan menimbulkan jejak permanen jika ditekan.

Sedangkan ciri-ciri daging segar, yaitu : daging berwarna merah segar, daging jika dipegang kenyal, tidak berlendir, tidak ada titik-titik darah yang menggumpal di beberapa bagian, daging tidak mengandung air, tidak berbau asam atau busuk, jika dipegang terasa kebasahannya, tetapi tidak lengket di tangan. Jika sebaliknya, maka daging itu tidak segar.

Sabtu, 03 Oktober 2009

ILMU PERTANIAN UMUM

SEHEKTAR 100 T0N


Artikel ini saya angkat ketika kuliah pertama di universitas muhammadiyah sidoarjo mata kuliah ilmu pertanian umum ( bp.Basori ). Aku sangat tertarik pada artikel ini karena ini sangat fantastis yang mana sebagian orang merasakan derita kelaparan yang melanda negeri ini tapi seseorang memunculkan ide yang brilian dengan menemukan singkong stek yang mampu berproduksi lebih dari 200 ton per hektar. Sayangnya mungkin singkong ini kurang layak di konsumsi tapi singkong ini mampu dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan etanol atau untuk biogas. Berikut artikelnya ,,,,,,,,,
Pensiun dini dari sebuah bank, berpendidikan sarjana, dan datang dari keluarga berada, Yordan Bangsaratoe memilih menjadi pekebun singkong, bahan baku bioetanol. Beragam cibiran seperti orang gila, tak menyurutkan niatnya. Kini dari kebun singkong ia menuai laba bersih Rp40-juta per ha, jauh lebih besar ketimbang gaji sebagai karyawan bank. Rahasianya? Ia menggenjot produksi hingga 120 ton/ha; pekebun lain rata-rata cuma 20-30 ton per ha.
Usianya 38 tahun ketika bank tempatnya bekerja selama 9 tahun itu dilikuidasi. Namanya tercatat dalam deretan karyawan yang harus 'pensiun dini'. Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Lampung itu sempat gamang. Untuk apa uang pesangon itu? Ia akhirnya memutuskan menanam singkong, komoditas yang banyak diusahakan di Lampung. Yordan tertantang lantaran banyak petani singkong di bumi Ruwai Jurai itu miskin.
Setelah bertemu peneliti, berselancar di dunia maya, dan membaca pustaka, Yordan menyambung bibit singkong. Ia menjadikan singkong kasetsart sebagai batang bawah dan singkong karet sebagai batang atas. Kasetsart dipilih sebagai batang bawah karena unggul. 'Potensi hasilnya mencapai 30 ton/hektar,' kata Yordan.
Soal singkong karet? Varietas yang tidak menghasilkan ubi itu berdaun rimbun. Yordan berasumsi, dengan banyaknya jumlah daun, maka pertumbuhan ubi semakin besar. Sebab, daun tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Dari proses itu dihasilkan makanan yang akan dipasok ke seluruh bagian tanaman. Sedangkan kelebihannya akan disimpan dalam umbi. Penyambungan itu ia lakukan sendiri untuk menghasilkan 4.400-4.500 bibit. Itu cukup untuk penanaman di lahan 1 ha.
Ayah 2 anak itu menyiapkan bibit pada musim kemarau. Sambungan antara singkong kasetsart dan singkong karet diikat dengan plastik. Ia rutin mengontrol pertumbuhan bibit di persemaian selama sebulan. Jika terjadi penyumbatan alias bottleneck, dipastikan sambungan tidak sempurna, jadi tidak layak dijadikan bibit. Bila kulit batang dan gabus berwarna putih dan tumbuh mata tunas, maka penyambungan itu berhasil.
Pupuk
Sebulan pascapenyambungan, ia memindahtanamkan bibit ke lahan setelah memotong bagian akar. Yordan membudidayakan anggota famili Euphorbiaceae itu berjarak tanam 1,5 m x 1,5 m sehingga populasi 4.400-4.500 batang per ha. Itu cukup memberikan ruang bagi singkong untuk tumbuh maksimal. Bandingkan dengan jarak tanam pekebun lain 1 m x 1 m-total populasi lebih dari 9.000 tanaman-sehingga tampak rapat. Dampaknya, produksi justru rendah.
Menurut Yordan, jarak tanam lebar bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi singkong. 'Komposisi pupuk kunci utamanya, bukan banyaknya pupuk,' kata pria kelahiran 11 Desember 1960 itu. Yordan menaburkan 5 ton pupuk kandang per ha di lahan yang sudah diolah. Empat hari usai tanam, ia menambahkan 0,5 gram pupuk NPK di sekeliling batang. Total pupuk NPK yang diberikan 200 kg.
Ia kembali memberikan total 300 kg NPK ketika kerabat karet itu berumur 3 bulan. Yordan memanen singkong berumur 10 bulan. Produktivitas ubikayu yang dibudidayakan di Madukoro, Lampung Utara, itu mencapai 30 kg per tanaman atau sekitar 120 ton per hektar. Saat ini, ia mengebunkan 17 ha. Dengan begitu ia mampu memanen 80 ton singkong per hari. Dengan kadar pati 30%, hanya perlu 4 kg singkong untuk menghasilkan 1 liter bioetanol; varietas lain, 6 kg.
Yang juga menerapkan sistem budidaya intesif adalah Tjutju Juniar Sholiha, pekebun singkong di Sukabumi, Jawa Barat. Ia berpegang pada komposisi pupuk untuk memaksimalkan singkong varietas darul hidayah. 'Bila tidak dipupuk, bobot umbi paling 15-20 kg. Tapi dengan pemupukan intensif, produksi menjulang 20-40 kg per tanaman,' katanya.
Rendam
Sebelum menanam, Tjutju merendam bibit sepanjang 10-15 cm dalam pupuk organik cair selama 3 jam. Bukan cuma sebagian, tetapi seluruh permukaan bibit terendam dalam pupuk. Tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan tunas. Ia menanam bibit-tanpa daun-berjarak 2,5 m x 1 m sehingga total populasi 5.000 tanaman. Alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional itu langsung memberikan 1 kg kompos per tanaman sekaligus menyiramkan pupuk organik cair. Hanya dalam waktu 2 pekan, bibit memunculkan tunas muda.
Perempuan kelahiran Bandung 17 Juni 1969 itu kembali memberikan pupuk organik cair pada bulan kedua dan keempat dengan total dosis per bulan sebanyak 2 liter untuk seluruh tanaman. Sedangkan pada bulan ketiga dan kelima ia memberikan 600 kg Urea dan 495 kg NPK di bawah tajuk tanaman. Setelah bulan kelima hingga panen, ia tak pernah memupuk lagi.
Oleh karena itu, penanaman sebaiknya saat musim hujan. Dengan budidaya seperti itu Manihot utillisima berproduksi maksimal, 200 ton per hektar atau rata-rata 40 kg per tanaman. Bahkan ia pernah memanen 100 kg umbi dari 1 tanaman. Hasil penelitian Institut Pertanian Bogor, singkong darul hidayah yang dikembangkan Tjutju berkadar pati 32%.
Yordan dan Tjutju mantap berkebun singkong lantaran pasar terbuka lebar. Produsen bioetanol dan tapioka menyerap singkong produksi mereka. Dengan harga Rp520 per kg, Yordan meraup omzet Rp62-juta per ha. Padahal, biaya produksi hanya Rp130 per kg sehingga laba bersih Yordan Rp46-juta per ha. Saat ini ia mengelola 10 ha lahan. Tingginya produksi singkong mereka menjadi incaran Korea, China, Taiwan, dan Kamboja. 'Karena produksi bibit masih terbatas, saya baru akan memasok Kamboja,' kata Tjutju.

Jumat, 06 Februari 2009

Wanita Yang Ideal Untuk Dinikahi

TERJEMAH Kitab - Qurratul Uyun

Nabi Saw. bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah. Dalam riwayat yang lain: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang dapat membantu suaminya dalam urusan akhirat." Nabi Saw. bersabda: "Setelah takwa kepada Allah, seorang mukmin tidak bisa mengambil manfaat yang lebih baik, dibanding istri yang shalehah dan cantik, yang jika suaminya memerintahkan sesuatu kepadanya, dia selalu taat, jika suaminya memandangnya dia menyenangkan, jika suaminya menyumpahinya dia selalu memperbaiki dirinya, dan apabila suaminya meninggalkannya (bepergian), dia pun selalu menjaga diri dan harta suaminya."
Muhammad Saw. bersabda: "Barang siapa menikah dengan seorang wanita hanya karena memandang kemuliaan derajatnya, maka Allah Swt. tidak akan menambah baginya, kecuali kehinaan. Barang siapa menikah dengan seorang wanita hanya karena memandang hartanya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kefakiran. Barang siapa menikah dengan seorang wanita karena kecantikannya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerendahan. Dan barang siapa menikah dengan sorang wanita tanpa tujuan lain, kecuali agar dia lebih mampu meredam gejolak pandangannya dan lebih dapat memelihara kesucian seksualnya dari perbuatan zina, atau dia hanya ingin menyambung ikatan kekeluargaan, maka Allah Swt. akan selalu memberkahinya bagi istrinya. Sedangkan seorang hamba sahaya yang jelek rupa dan hitam kulitnya, namun kuat imannya, adalah lebih utama.: "Nabi Saw. bersabda: "Barang siapa mempunyai anak dan mampu untuk mengawinkannya, namu dia tidak mau mengawinkannya, kemudian anaknya berbuat zina, maka keduanya berdosa.:"Nabi Saw. bersabda: "Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu:
1. Hartanya
2. Keturunannya
3. Kecantikannya
4. Agamanya
Maka hendaklah kamu menikah dengan wanita yang kuat agamanya, agar kamu memperoleh kebahagiaan." Nabi Saw. bersabda: "Barang siapa ingin menghadap ke haribaan Allah dalam keadaan suci dan disucikan, maka kawinlah dengan wanita yang merdeka." Nabi Saw. bersabda: "Ada empat resep kebahagiaan bagi seseorang yaitu:
1. Istrinya adalah wanita shalehah
2. Putra-putrinya baik-baik
3. Pergaulannya bersama orang-orang shaleh
4. Rizkinya diperoleh dari negeri sendiri." Nabi Saw. bersabda: "Sebaik-baik wanita dari umatku ialah yang berwajah ceria dan sedikit maharnya" Nabi Saw. bersabda: "Kawinlah kalian dengan wanita yang periang dan banyak anaknya, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi terdahulu kelak pada hari kiamat." Nabi Saw. bersabda kepada Zaid bin Tsabit: "Hai Zaid, apakah engkau sudah kawin?', Zaid menjawab belum', Nabi bersabda 'Kawinlah, maka engkau akan selalu terjaga, sebagaimana engkau menjaga diri. Dan janganlah sekali-kali kawin dengan lima golongan wanita.' Zaid bertanya ' Siapakah mereka ya Rasulallah?' Rasulullah menjawab 'Mereka adalah:
1. Syahbarah
2. Lahbarah
3. Nahbarah
4. Handarah
5. Lafut'
Zaid berkata 'Ya Rasulallah, saya tidak mengerti apa yang engkau katakan' Maka Nabi Raw. Menjelaskan, 'Syahbarah ialah wanita yang bermata abu-abu dan jelek tutur katanya. Lahbarah adalah wanita yang tinggi dan kurus. Nahbarah ialah wanita tua yang senang membelakangi suaminya (ketika tidur). Handarah ialah wanita yang cebol dan tercela. Sedangkan Lafut ialah wanita yang melahirkan anak dari laki-laki selain kamu." Satu riwayat menceritakan: "Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah dan berkata: 'Ya Rasulallah, aku menemukan seorang wanita yang baik dan cantik, tetapi dia mandul, apakah aku boleh mengawininya?' Nabi Saw. menjawab: 'Jangan' Kemudian dia datang lagi kepada Rasulullah untuk kedua kalinya. Nabi Saw. tetap melarangnya. Dia pun datang lagi untuk ketiga kalinya. Nabi Saw. pun tetap melarangnya menikahi wanita itu, dan beliau bersabda: 'Kawinlah kalian dengan wanita yang selalu menyenangkan hati dan banyak anaknya. Karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah keturunan kalian.''

Selasa, 07 Oktober 2008

PROSES BROWNING

Ketika Apel Berwarna Coklat


Sering kali kita melihat bahwa buah apel, pear, kentang atau salak yang baru saja dikupas, terlihat fenomena warna coklat. Proses apa yang terjadi? Apakah gejala ini menguntungkan atau malah merugikan?
Dalam ilmu pengetahuan pangan, gejala ini dinamakan browning (pencoklatan), yaitu terbentuknya warna coklat pada bahan pangan secara alami yang bukan akibat dari zat warna. Pada kelompok makanan tertentu seperti pada bakery (berbagai roti, snack, nut’s, meat roast, steak, kopi, the dan permen coklat), browning umumnya diminati. Sebaliknya pada kelompok buah – buahan seperti apel, pear, salak dan juga kentang (potato), proses pencoklatan itu nampaknya tak dikehendaki.
Bagaimana proses browning ini terjadi?
Setelah buah dikupas, enzim Polyphenol Oxidase (PPO) akan aktif, yang dengan bantuan oxygen akan mengubah gugus monophenol menjadi O-hidroxyphenol, yang selanjutnya diubah lagi menjadi O-quinon. Gugus O-quinon inilah yang membentuk warna coklat.
Bagaimana mencegah browning ini? Cara yang paling lazim dilakukan adalah pemberian larutan garam (salting) dan pemanasan (blanching). Setelah dikupas dan dipotong, buah direndam larutan garam secukupnya. Bagi yang tidak menyukai garam, rendamlah buah dalam air panas yang tidak mendidih dengan suhu berkisar antara 82 – 93°C selama 3 menit. Maksudnya untuk menonaktifkan enzim penyebab pencoklatan itu. Bisa juga anda tambahkan tablet vitamin C dosis 200 mg per liter air. Maka anda akan mendapatkan buah yang tetap segar dengan tambahan vitamin C. Silahkan mencoba!

Minggu, 05 Oktober 2008

Proses Degreening

Pergi Hijau Berkat Karbit
Oleh trubusid

Senin, Mei 05, 2008 23:18:18

Jingga atau kuning jelas lebih menarik daripada hijau. Itu akan terjadi setahun yang akan datang. Lewat proses degreening, Hendi Munawar mencoba mengubah keprok garutnya yang hijau menjadi jingga mencorong.
K ebun Hendi Munawar di Kampung Cimencek, Desa Cintaasih, Samarang, Garut, itu memang letaknya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 500 m dpl. Pantas saja penampilan keprok garutnya yang bergelantungan di 1.000 pohon tak begitu menarik. Warnanya hijau. Sungguh jauh berbeda dengan tampilan keprok soe yang tumbuh di ketinggian sekitar 1.050 m dpl di Desa Tobu, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Di Malang ada keprok batu 55, atau keprok payatumpi yang tumbuh di ketinggian 1.200 m dpl di Takengon, Aceh Selatan. Ketiga keprok itu berwarna jingga menyala, tidak kalah menariknya daripada ponkam dari Taiwan dan mikan dari Jepang.
Gas etilen
Asornya penampilan kulit buah jeruk itu diatasi oleh Hendi Munawar dengan karbit. Ya, karbit memang telah lama digunakan secara tradisional untuk memacu kematangan buah. Efektivitasnya hanya seperseratus jika dibandingkan etilen. Siapa sangka selain pemacu kematangan, gas asetilen yang dihasilkan dari karbit juga bermanfaat untuk menghilangkan warna hijau.
Gas asetilen pada proses penguningan buah jeruk akan merangsang pembentukan gas etilen dalam sel. Gas etilen merombak klorofil pada kulit jeruk dan mensintesis pigmen karotenoid. Aktivitas perombakan tersebut hanya terjadi pada lapisan subepidermal kulit buah. Hasilnya kulit buah yang semula hijau berubah jadi jingga tanpa mengubah rasa buah.
Hal itu dibuktikan oleh Dr Mohamad Soedibyo dan Ir Wisnu Broto, MS, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian di Bogor. Dalam penelitiannya pada 1992 Soedibyo menunjukkan degreening dengan menggunakan gas asetilen tidak mengubah nilai gizi jeruk. Sementara hasil penelitian Wisnu pada 1988, gas asetilen tidak mempengaruhi kadar gula total, kadar asam total, dan kadar vitamin C. Artinya, pemberian karbit hanya mengubah tampilan kulit jeruk dari hijau ke jingga tanpa mengubah rasa dan nilai gizi.
Menarik
Degreening sebenarnya sudah sejak 20 tahun lalu diteliti di Indonesia. Namun, teknologi itu jarang diterapkan pekebun karena menambah biaya produksi. 'Di luar negeri degreening telah lama dilakukan. Sebut saja Jepang, Cina, Pakistan, Australia, dan negara-negara di Eropa,' kata Prof Dr H. Roedhy Poerwanto, kepala Laboratorium Produksi Tanaman IPB.
Penerapan degreening akan menaikkan daya saing dengan jeruk impor yang berpenampilan menarik. Pekebun pun bisa memperoleh harga lebih tinggi karena, 'Pastinya jeruk lokal lebih segar dibandingkan jeruk impor. Jeruk impor bisa saja hasil panen 3-4 bulan yang lalu. Ia tahan lama karena disimpan pada suhu rendah,' ujar Wisnu, kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapenen Pertanian.
Hal itu juga diakui Deborah Herlina, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas, Jawa Barat, yang juga hobi makan jeruk. 'Ini baru jeruk. Rasanya segar, beda dengan jeruk impor yang banyak dijual di pasar swalayan,' kata Deborah ketika mencicipi jeruk medan yang baru dipetik dari pohon.
Matang
Degreening bisa diterapkan pada semua jenis jeruk. Namun, lazimnya jenis jeruk keprok dan mandarin karena ketika didegreening warna cenderung jadi jingga. Beda dengan siem yang berubah jadi kuning. 'Warna kuning umumnya tidak disukai konsumen karena buah dianggap sudah terlalu matang atau sudah lama dipanen,' kata Roedhy Poerwanto yang meraih gelar doktor dari Ehime University, Shikoku, Jepang.
Proses penguningan kulit buah itu tidak mempengaruhi kematangan buah. Oleh karena itu jeruk yang akan dikuningkan harus memiliki kematangan yang cukup sehingga kualitas rasanya baik: manis. Warna kuning sekurang-kurangnya 70%. Dengan begitu warna yang dihasilkan akan lebih menarik, jingga mengkilap. Bila kurang dari itu biasanya kuningnya pucat sehingga tak menarik, kata Wisnu.
Sementara menurut Ir Retno Pangestuti, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, jeruk yang masih berwarna hijau pun bisa didegreening dengan syarat sudah matang. Namun, biasanya semburat warna hijau yang digunakan 10 -20%. Kalau kurang dari itu kekuningan buah dalam degreening tidak seragam, kecuali ada pemilihan buah sebelumnya. 'Misal, jeruk yang kuningnya masih 5% disatukan dengan yang 5% juga. Jangan dicampur dengan yang kuningnya sudah 70%, 'tambah alumnus Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada itu.
Proses
Proses penguningan buah cukup sederhana. Cuci buah jeruk dengan air mengalir sehingga bersih dari debu yang menempel. Selanjutnya rendam dalam larutan Benlate 500 ppm selama 30-60 detik. Lalu susun jeruk dalam rak degreening tanpa dikeringkan terlebih dahulu. Tutup rak degreening dengan plastik film. Pastikan ujung-ujung plastik seluruhnya tercelup dalam bak air sehingga tak bocor.
Alirkan gas asetilen melalui selang karet ke dalam rak sebanyak 1-2 liter per m3 ruangan kosong selama 8 jam. Setelah waktu pemeraman tercapai, sungkup dibuka dan dibiarkan terbuka selama 30-60 menit. Tujuannya agar kadar CO2 dalam ruangan tidak terlalu tinggi sehingga tak menghambat proses degreening,' kata Retno.
Tutup kembali sungkup plastik tersebut, lalu alirkan lagi gas karbit seperti di atas. Ulangi terus perlakuan tersebut sampai kulit jeruk berwarna jingga merata. Menurut Wisnu dan Retno degreening biasanya memakan waktu 2 hari sampai warna buah benar-benar bagus.

Sabtu, 04 Oktober 2008

SIKSA MENINGGALKAN SHOLAT

" Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar ini ? Mereka menjawab : " Kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan sholat." (S.Al-Mudathir 42-43)

# SIKSAAN KETIKA HIDUP DI DUNIA
* Alloh kurangkan keberkatan umurnya
* Rezekinya dipersempit oleh Alloh
* doanya ditolak
* Hilang cahaya soleh dari dirinya
* Amal kebaikan yang dilakukannnya tidak di beri pahala

# SIKSAAN KETIKA SAKARATUL MAUT
* Ia akan menghadapi sakaratul maut dalam keadaan hina
* Matinya dalam keadaan menderita kelaparan
* Matinya dalam keadaan sangat haus walaupun di beri minum sebanyak tujuh lautan


# SIKSAAN KETIKA DI DALAM KUBUR
• Alloh akan menyempitkan kuburnya dengan sesempit-sempitnya
• Kuburanya akan di gelapkan
• Alloh akan menyiksanya dengan pedih sampai hari kiamat tiba


# SIKSAAN KETIKA BERADA DI AKHIRAT
 Ia akan di belenggu dan di seret ke padang mahsyar oleh masyarakat
 Alloh tidak akan memandangnya dengan belas kasihan
 Alloh tidak akan mengampuni dosanya & di siksa dengan keras di neraka